Manggala Agni Kuras Lumpur Padamkan Karhutla Bengkalis
Sumber air di lokasi karhutla Bengkalis kian surut. Manggala Agni terpaksa menguras lumpur kanal cacing demi memperoleh air untuk memadam
BENGKALIS, TOPIKPUBLIK.COM – Perjuangan personel Manggala Agni dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, tidak hanya dihadapkan pada kepulan asap pekat dan bara api yang terus bersembunyi di bawah permukaan lahan gambut. Di tengah operasi yang telah memasuki hari keenam, mereka juga harus menghadapi tantangan serius berupa semakin menipisnya sumber air yang menjadi urat nadi proses pemadaman.
Kondisi tersebut memaksa para petugas bekerja lebih keras. Di sejumlah titik lokasi kebakaran, satu-satunya sumber air yang masih dapat dimanfaatkan hanyalah kanal-kanal kecil atau yang dikenal masyarakat sebagai kanal cacing. Namun, memasuki puncak musim kemarau, debit air di saluran sempit tersebut terus mengalami penyusutan sehingga personel harus menguras lumpur, membersihkan endapan, hingga membuat aliran air kembali lancar sebelum air dapat dipompa menuju titik-titik api.
Situasi itu menjadi gambaran nyata beratnya medan operasi yang harus dihadapi para petugas di lapangan. Tidak hanya berjibaku melawan kobaran api yang menghanguskan lahan gambut, mereka juga berpacu dengan waktu untuk memastikan pasokan air tetap tersedia agar proses pemadaman tidak terhenti.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan keterbatasan sumber air menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim Manggala Agni yang hingga Senin (20/7/2026) masih terus melakukan operasi pemadaman dan pendinginan di kawasan terdampak karhutla.
"Di beberapa titik di Pematang Pudu, sumber air yang tersedia hanya berasal dari kanal-kanal cacing yang debitnya mulai surut. Sebelum digunakan, anggota harus membersihkan lumpur terlebih dahulu agar air bisa dipompa untuk mendukung operasi pemadaman. Ini menjadi salah satu tantangan yang kami hadapi di lapangan," ujar Ferdian.
Meski kobaran api di permukaan telah berhasil dikendalikan, pekerjaan personel Manggala Agni belum berakhir. Di sejumlah lokasi, asap tipis masih terus muncul dari sela-sela lahan gambut, menjadi pertanda bahwa bara api masih menyala di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut mengharuskan petugas tetap bertahan di lapangan untuk melakukan proses pendinginan secara intensif dan berkelanjutan.
Menurut Ferdian, karakteristik lahan gambut memang membuat proses penanganan karhutla jauh lebih kompleks dibandingkan kebakaran pada lahan mineral. Api tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi dapat terus merambat melalui lapisan gambut yang kering dan kembali muncul sewaktu-waktu apabila tidak dipadamkan secara menyeluruh.
"Pagi ini asap tipis masih terlihat di lokasi sehingga upaya pemadaman tetap dilanjutkan. Prinsip kami, penanganan tidak berhenti sampai benar-benar tuntas. Api aktif memang sudah padam, tetapi selama masih ada asap berarti masih ada potensi bara di bawah permukaan gambut yang harus dipadamkan," katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan udara menggunakan drone yang dilakukan pada Minggu (19/7/2026), luas kawasan yang terdampak kebakaran di Pematang Pudu diperkirakan telah mencapai sekitar 81 hektare. Citra udara memperlihatkan masih adanya kepulan asap yang tersebar di beberapa titik, sehingga operasi pemadaman kembali dilanjutkan untuk memastikan seluruh bara benar-benar padam.
Memasuki hari keenam operasi, sebanyak empat regu Manggala Agni kembali diterjunkan sejak pagi hari. Mereka menyisir area-area yang masih mengeluarkan asap dengan fokus utama melakukan pendinginan hingga ke lapisan terdalam gambut. Langkah tersebut dinilai sangat penting untuk memutus potensi munculnya kebakaran susulan yang kerap terjadi akibat bara api yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
Selain mengandalkan peralatan pemadam, para personel juga harus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di lapangan. Keterbatasan air membuat setiap tetes yang berhasil dipompa dari kanal-kanal cacing menjadi sangat berharga dalam mendukung keberhasilan operasi pemadaman.
Ferdian menegaskan, operasi tidak akan dihentikan sebelum seluruh titik dipastikan benar-benar aman. Menurutnya, keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya ditandai padamnya kobaran api di permukaan, tetapi juga hilangnya asap serta musnahnya seluruh bara yang masih tersimpan di lapisan gambut.
"Kami akan terus bertahan di lokasi sampai dipastikan tidak ada lagi asap maupun bara yang tersisa. Keselamatan kawasan, perlindungan ekosistem gambut, serta mencegah kebakaran kembali menyala menjadi prioritas utama kami," tegas Ferdian.
Hingga saat ini, operasi pemadaman karhutla di Pematang Pudu, Bengkalis, masih terus berlangsung dengan dukungan berbagai pihak. Kawasan tersebut menjadi salah satu titik kebakaran hutan dan lahan terbesar yang ditangani di Provinsi Riau sepanjang Juli 2026, sehingga membutuhkan penanganan yang cepat, terpadu, dan berkelanjutan untuk mencegah meluasnya dampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, serta aktivitas ekonomi di wilayah sekitar.





Suhendra Nakale



















