Ketua PD IPA se-Sumut Tolak Ahmad Irham Tajhi Jadi Ketua PW IPA

Menjelang Musywil IPA Sumut XIX, sejumlah Ketua PD IPA se-Sumatera Utara menolak pencalonan Ahmad Irham Tajhi karena dinilai bukan kader murni Al Washliyah.

Ketua PD IPA se-Sumut Tolak Ahmad Irham Tajhi Jadi Ketua PW IPA
Sejumlah Ketua PD IPA se-Sumut Tegaskan Penolakan Ahmad Irham Tajhi Jadi Calon Ketua PW IPA Sumut

MEDAN — TOPIKPUBLIK.COM — Menjelang pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Musywil) Ikatan Pelajar Al Washliyah (IPA) ke-XIX yang dijadwalkan berlangsung pada 20–21 Oktober 2025 di Asrama Haji Medan, gelombang penolakan terhadap pencalonan Ahmad Irham Tajhi sebagai Calon Ketua Pimpinan Wilayah (PW) IPA Sumatera Utara semakin menguat. Sejumlah Ketua Pimpinan Daerah (PD) IPA se-Sumut secara tegas menyatakan sikap menolak, dengan alasan integritas dan loyalitas kader yang dinilai tidak murni.

Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua PD IPA Kota Medan, M. Reza Abdillah, yang menilai bahwa sosok Ahmad Irham Tajhi tidak layak memimpin PW IPA Sumut. Menurutnya, jabatan strategis di tubuh organisasi pelajar tertua di bawah naungan Al Washliyah itu seharusnya dipegang oleh kader tulen yang lahir, tumbuh, dan berproses dalam nilai-nilai Ikatan Pelajar Al Washliyah (IPA) secara utuh dan berkelanjutan.

“Bagi kami, beliau adalah kader karbitan, bahkan bisa dikatakan ‘kutu loncat’. Ia disinyalir pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) — badan otonom di bawah Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini sangat memalukan bagi Ikatan Pelajar Al Washliyah yang menjunjung tinggi marwah dan ideologi keorganisasian,” ujar M. Reza Abdillah, mewakili sejumlah Ketua PD IPA se-Sumut.

Senada dengan itu, Ketua PD IPA Asahan, Said Ibnu Rulian Ahmad, menyoroti rekam jejak Ahmad Irham Tajhi yang dinilai tidak mencerminkan etika organisasi. Ia mengungkapkan bahwa ketika menjabat Sekretaris PW IPA Sumut, Ahmad Irham sempat terlibat dalam upaya pengambilalihan kepemimpinan secara tidak sah (kudeta) terhadap pengurus periode sebelumnya. “Tindakan itu telah mencederai tatanan organisasi, sehingga sempat diterbitkan surat rekomendasi pemberhentian, walaupun akhirnya yang bersangkutan memilih mundur,” tegas Said Ibnu.

Sementara itu, Ketua PD IPA Tebing Tinggi, Rio Arbansyah, menilai bahwa pencalonan Ahmad Irham Tajhi sangat tidak layak untuk diterima secara aklamasi. Ia menyebut, ada kelompok tertentu yang berusaha meloloskan proses pencalonan di Musywil IPA Sumut XIX meski sarat dengan ketidaknetralan dan dugaan pelanggaran aturan organisasi serta administrasi internal.

“Jika Musywil dibiarkan berjalan tanpa koreksi, ini akan menjadi preseden buruk bagi regenerasi IPA di Sumatera Utara. Kami menolak keras proses aklamasi yang mengabaikan prinsip demokrasi dan konstitusi organisasi,” tegas Rio.

Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua PD IPA Simalungun, Ajie Apriansyah, yang meminta Pimpinan Pusat (PP) IPA untuk turun tangan mengawasi proses Musywil dan melakukan evaluasi terhadap pencalonan Ahmad Irham Tajhi. Menurutnya, bila PP IPA diam, hal itu dapat memunculkan indikasi adanya kepentingan tertentu di balik pencalonan tersebut.

Lebih keras lagi, Ketua PD IPA Dairi, Ahmad Syahroni, menegaskan bahwa pihaknya bersama kader di daerah akan melawan segala bentuk manipulasi dalam proses Musywil.

“Kami menolak secara tegas pencalonan Ahmad Irham Tajhi sebagai Ketua PW IPA Sumut. Kami punya hak untuk bersuara dan menolak praktik-praktik yang tidak sehat. Syarat rekomendasi 50 persen yang dibuat hanya siasat menjegal kandidat lain dan bentuk pembungkaman demokrasi di internal IPA,” ungkap Syahroni.

Dukungan penolakan juga datang dari Ketua PD IPA Padang Lawas Utara, Parlun, yang menilai figur Ahmad Irham Tajhi tidak layak secara moral maupun organisatoris. Ia berharap seluruh pihak, termasuk senior dan PP IPA, bersikap objektif demi menjaga marwah Ikatan Pelajar Al Washliyah Sumatera Utara.

“Kita tidak bisa menerima seseorang yang diduga eks Banser atau PMII untuk memimpin organisasi pelajar Al Washliyah. Ini bukan soal pribadi, tapi soal prinsip, ideologi, dan masa depan organisasi. Jangan sampai aturan dan marwah organisasi dikorbankan karena kepentingan segelintir orang,” pungkas Parlun.

Dengan semakin banyaknya suara penolakan dari berbagai PD IPA di Sumut, dinamika menjelang Musywil IPA Sumut XIX diprediksi akan semakin memanas. Para kader menegaskan bahwa mereka siap mengawal proses musyawarah agar berjalan bersih, demokratis, dan sesuai garis perjuangan Ikatan Pelajar Al Washliyah sebagai organisasi pelajar Islam yang berkomitmen menjaga nilai, moral, dan integritas kadernya.

Wartawan: Rizky Zulianda
Editor: Thab313