Hasanuddin Tisi Dg Lewa: Hidup Singkat, Isi dengan Perjuangan dan Kebaikan
Oleh: Yahdi Basma (Sastrawan Politik Palu) Refleksi mendalam bersama Hasanuddin Tisi Dg Lewa di Bekasi Barat, mengulas makna hidup, nasionalisme, krisis kepercayaan, hingga peran tokoh masyarakat dalam menjaga persatuan bangsa Indonesia.
TOPIKPUBLIK.COM – Waktu jelang siang mengalir pelan, nyaris tanpa jeda. Ahad, 19 April 2026. Di sebuah patio—area belakang rumah yang tenang dan asri di kawasan Bekasi Barat—percakapan berlangsung tanpa sekat. Tidak ada formalitas berlebih, tidak pula jarak yang menciptakan kekakuan. Hanya dialog hangat yang mengalir jernih, seperti kopi hitam yang tersaji di meja.
Di hadapan saya duduk seorang figur yang dalam diamnya menyimpan keteguhan: Hasanuddin Tisi Dg Lewa, atau yang akrab disapa Tetta Lewa. Sosok pengusaha sukses asal Sabintang, Takalar, Sulawesi Selatan, yang kini bermukim di Perumahan Pondok Timur Mas, Bekasi Barat. Kehadirannya memancarkan ketenangan, namun di balik itu tersimpan kedalaman pengalaman dan keluasan pandangan hidup.
Ia bukan sekadar pelaku usaha. Dalam dirinya mengalir identitas kultural yang kuat sebagai Karaeng Mallantikang Maloloa, sekaligus memikul tanggung jawab sosial sebagai pemimpin di berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Teranyar, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Nasional (BPN) KKTP (Kerukunan Keluarga Takalar Panrannuangku), sebuah paguyuban yang menjadi ruang pengikat nilai-nilai kekeluargaan dan identitas asal.
Jejaringnya pun melampaui batas lokal. Keterhubungannya dengan lingkar nasional bahkan internasional tidak semata karena relasi keluarga dengan tokoh seperti Oesman Sapta Odang, tetapi lebih pada kapasitas intelektual, cara berpikir yang jernih, serta sikap hidup yang membumi.
Satu jam bersama dirinya terasa seperti membuka lembaran refleksi tentang kehidupan. Sebuah perenungan yang tidak menggurui, tetapi mengajak berpikir.
“Hidup ini singkat,” ujarnya tenang namun penuh penekanan, “jadi isi dengan perjuangan yang menghadirkan kebaikan.”
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia lahir dari perjalanan panjang yang ditempuhnya—dari kampung halaman di Takalar hingga dinamika dunia usaha di tanah rantau. Sebuah proses yang membentuk perspektifnya tentang arti hidup, tanggung jawab, dan kontribusi.
Dalam pandangannya, Indonesia bukan sekadar entitas geografis, melainkan proyek sejarah besar yang dibangun di atas pengorbanan para pendiri bangsa. Darah dan keringat para founding fathers, menurutnya, tidak boleh direduksi menjadi sekadar catatan masa lalu, tetapi harus menjadi fondasi moral yang terus hidup dalam setiap generasi.
“Negeri ini lahir dari perjuangan luhur. Itu adalah basis utama yang harus kita jaga bersama,” tuturnya. “Perbedaan pasti ada, itu kodrat. Tapi jangan sampai membeku. Harus terus dicairkan agar tidak menjadi penghambat pembangunan bangsa.”
Di titik ini, terlihat jelas arah pikirannya yang integratif. Ia memandang perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai energi sosial yang jika dikelola dengan baik, justru menjadi kekuatan kolektif bangsa.
Namun, percakapan tak berhenti pada optimisme. Ada nada keprihatinan yang mengemuka ketika ia menyinggung kondisi bangsa saat ini. Di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks, tantangan ekonomi yang dirasakan masyarakat, serta maraknya praktik-praktik koruptif, ia menilai Indonesia tengah menghadapi persoalan serius.
“Jujur, saya prihatin,” ungkapnya dengan raut wajah yang mengeras. “Di saat rakyat menghadapi kesulitan, kita masih sering melihat praktik yang tidak mencerminkan keberpihakan pada kepentingan publik.”
Baginya, krisis terbesar yang dihadapi bangsa saat ini bukan hanya soal ekonomi, melainkan krisis kepercayaan atau trust deficit. Ketika kepercayaan publik terhadap institusi mulai terkikis, maka stabilitas sosial dan arah pembangunan menjadi rapuh.
Dalam konteks itu, ia menegaskan pentingnya peran tokoh masyarakat, pengusaha, serta organisasi sosial seperti KKTP. Bukan sekadar sebagai wadah silaturahmi, tetapi sebagai kekuatan moral dan sosial yang mampu menjaga nilai, memperkuat solidaritas, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menariknya, di tengah pembahasan serius tersebut, terselip sisi personal yang memperlihatkan keseimbangan hidupnya. Ia memiliki kecintaan mendalam pada dunia otomotif, khususnya kendaraan Jeep. Hobi yang telah ia tekuni sejak muda itu, bagi dirinya, bukan sekadar kesenangan, tetapi juga simbol karakter.
Jeep, dalam pandangannya, merepresentasikan ketangguhan, adaptasi, dan kesiapan menghadapi medan berat. Sebuah filosofi yang sejalan dengan perjalanan hidupnya.
Barangkali, prinsip itulah yang ia pegang: bahwa jalan kehidupan tidak selalu mulus, tetapi dengan ketahanan, arah yang jelas, dan komitmen pada nilai, setiap rintangan dapat dilalui.
Menutup perbincangan, ia kembali menegaskan gagasan awalnya—tentang waktu yang terbatas dan makna perjuangan yang sesungguhnya.
“Yang kita kejar bukan sekadar keberhasilan,” katanya, “tetapi bagaimana keberhasilan itu memberi arti bagi orang lain.”
Satu jam itu terasa padat, bukan karena banyaknya kata yang terucap, melainkan karena kedalaman makna yang tersirat. Dari Hasanuddin Tisi Dg Lewa, kita belajar bahwa hidup bukan soal seberapa lama kita ada, tetapi tentang apa yang kita tinggalkan—apakah jejak kebaikan yang bermakna, atau sekadar jejak yang berlalu begitu saja.
Seperti secangkir kopi hitam yang dipadukan dengan gula aren cair—sederhana, namun meninggalkan rasa yang dalam dan tak mudah dilupakan.
Bekasi, 19 April 2026.























